Program Wisata Bali

Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik oleh wisatawan domestik ataupun manca negara. Bali memiliki banyak macam variasi kesenian dan  keunikan budaya,  adat istiadat yang masih sangat kuat yang terus dijaga kelestariannya dan potensi alam pariwisata yang menarik untuk dikunjungi seperti pantai, pegunungan, sawah bertingkat dan daerah pedesaan yang masih sangat sejuk, asri dan ramah. Bali bagian selatan merupakan daerah pusat dan barometer kepariwisataan di Bali, salah satu alasannya karena terletak di wilayah yang strategis dan dekat dengan bandara internasional Ngurah Rai yang berlokasi di Kuta.  Untuk sementara ini objek-objek wisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan domestik hanya objek-objek yang sering di promosikan oleh beberapa biro perjalanan wisata seperti halnya Pantai Kuta, Pura Uluwatu, Pura Tanah Lot, Kintamani, Pura Besakih dan beberapa objek wisata yang lainnya.

Dengan melihat dan mempelajari situasi dan kondisi yang seperti tersebut di atas, rutinitas aktivitas  sudah berjalan cukup lama sehingga dalam pikiran kami sebagai pelaku pariwisata tumbuh rasa kekhawatiran adanya kejenuhan dalam kunjungan ke Bali, untuk menghindari terjadinya kekhawatiran yang kami miliki maka dari itu Wisata Dewata mencoba memberikan, menawarkan beberapa pilihan kunjungan objek wisata selain aktivitas kunjungan yang sudah berjalan,  yaitu dengan cara  akan  menambahkan sesuatu yang baru sebagai pilihan, hal tersebut kami berikan dengan harapan anda yang berkunjung ke Bali bisa melihat lebih dalam tentang keindahan alam, budaya, adat istiadat dan rutinitas kehidupan orang-orang Bali.

Kami akan memberikan contoh program wisata lengkap yang ada di Pulau Dewata Bali, untuk bisa mengetahui program ini diperlukan waktu yang cukup lama, namun apabila waktu yang anda miliki ada keterbatasan dan tidak mencukupi untuk program tersebut tidak perlu khawatir, dengan memberi kami informasi detail apa yang anda harapkan,  apa yang anda sukai.. dengan senang hati kami berusaha membantu memberikan solusi yang terbaik untuk mewujudkan harapan anda dalam berwisata, kami akan membuat program disesuaikan dengan kebutuhan anda.

Hari 1. City Tour (Kuta, Denpasar dan Uluwatu).

Guide (pemandu wisata) anda sudah berada di hotel di mana anda menginap sekitar jam 9 pagi, (bilamana ada perubahan waktu keberangkatan tour,  sebagai contoh anda ingin berangkat dari hotel lebih awal atau lambat, sebaiknya informasikan ke guide atau ke salah satu staff kita), setelah bertemu dengan guide, guide akan memberikan informasi dan menjelaskan secara garis besarnya saja tentang objek-objek wisata yang akan dikunjungi, apabila anda ada keinginan lain bisa dibicarakan dengan guide. Biasanya kunjungan diawali dengan pergi ke pantai dan pasar ikan tradisional Jimbaran, pantai disini relative aman untuk berenang baik untuk orang dewasa maupun anak-anak karena kondisi ombak yang tidak terlalu besar dan kondisi tanah landai tidak curam sehingga tidak berbahaya buat anak-anak, pasar ikan Jimbaran selain menarik dikunjungi juga baik untuk belajar menambah wawasan tentang ikan karena banyak macam ikan terdapat disana, setelah itu kita melanjutkan perjalanan ke Pasar Kumbasari Denpasar, merupakan pasar tradisional yang terbesar di Denpasar. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke pantai Geger, pantai yang terletak disebelah kawasan hotel bintang lima. Anda bisa menikmati makan siang sambil menikmati pemandangan laut. Dalam perjalanan menuju Pura Uluwatu dan bisa singgah di Puja Mandala dimana di tempat tersebut terdapat 5 (lima) tempat peribadatan dari 5 (lima) agama yang berbeda yaitu Masjid, Gereja Protestan, Gereja Katolik, Pura Hindu dan Candi Budha, ini merupakan contoh yang baik untuk menjalin kerukunan umat beragama di negara kita. Pura Uluwatu merupakan salah satu pura yang besar dan banyak dikunjungi wisatawan, pemandangan yang sangat menarik dan disana terdapat banyak kera (sebaiknya anda tidak menggunakan kacamata,  topi,  perhiasan dan barang-barang yang berharga karena monyet disana suka mencari perhatian dengan mengambil barang-barang tersebut untuk di tukar dengan makanan). Pura Uluwatu sebagai tempat pemujaan umum bagi umat Hindu,  Pura Uluwatu juga disebut dengan Pura Luwur atau Pura Luhur dan merupakan salah satu Pura Sad Khayangan (Pura Besakih, Pura Goa Lawah, Pura Batu Karu, Pura Lempuyang dan Pura Bukit Pengalengan). Pura ini memiliki piodalan atau upacara hari jadinya yang jatuh pada hari Anggara Kasih, Wuku Medangsia yang berlangsung selama 3 (tiga) hari. Pada hari itu umat Hindu beramai-ramai untuk bersembahyang memohon keselamatan lahir dan batin. Berdasarkan sejarah, ada dua pendapat yang mengatakan bahwa berdirinya Pura Uluwatu oleh Empu Kuturan pada masa pemerintahan Marakata di abad  IX. Pendapat lain mengatakan, pura ini dibangun oleh seorang pendeta penyebar agama Hindu yaitu Dang Hyang Nirartha / Pedanda Sakti Wau Rauh dari kerajaan Daha (Jawa Timur). Beliau bersama keluarganya datang ke Bali pada masa pemerintahan ‘Dalem Waturenggong’ sekitar tahun 1546 Masehi. Beliau mendirikan pura karena di tempat inilah beliau melakukan / mencapai ‘moksa’ atau ‘ngeluwur’, sehingga masyarakat setempat menamakan pura ini adalah Pura Luwur Uluwatu.

Setelah anda puas menikmati pemandangan laut kemudian anda di ajak untuk menikmati sajian tari Kecak (include) yang akan di mulai pada jam 6 sore saat menjelang matahari terbenam. Pertunjukan kesenian tari kurang lebih berdurasi selama 1 jam, selesai tari kecak sekitar jam 7, untuk melengkapi hari anda, guide akan mengantar anda untuk makan malam sea food di Jimbaran (exclude). Tempat ini sudah sangat terkenal untuk makan malam, lokasi di pinggir pantai, masakan yang sangat lezat dan berdekorasikan lampu yang sangat indah serta dilengkapi dengan suara deburan ombak di pantai. Selain makan malam di pantai Jimbaran ada beberapa pilihan makan malam ditempat lain seperti: Warung Made, Plengkung atau mungkin anda memiliki ide sendiri dimana tempat anda akan makan malam. Atau anda lebih suka kembali ke hotel untuk istirahat. (Hari pertama dan kedua tinggal di salah satu area di Kuta, Jimbaran, Nusa Dua atau Sanur).

Selain pilihan objek-objek wisata tersebut di atas, ada beberapa objek wisata yang memungkinkan untuk dikunjungi antara lain :

  1. Pantai Kuta:  pantai ini sangat terkenal dan banyak sekali dikunjungi oleh wisatawan (sebaiknya anda berhati-hati sekali kalau berenang di pantai ini karena ombak relative besar, arus keras dan posisi tanah curam. Bagi orang tua yang berlibur bersama anak-anak tercinta, sebaiknya benar-benar memperhatikan dan menjaga mereka).
  2. Pura Gunung Payung untuk menyaksikan pemandangan laut yang sangat spektakuler.
  3. Pasar Burung: lokasi berada di Denpasar. Kita tidak mencantumkan sebagai program utama karena berkaitan dengan adanya flu burung, sampai saat ini daerah itu bebas dari ancaman tersebut.
  4. Joger, bagi anda yang ingin membawa oleh oleh pakaian khas Joger yang bertuliskan humor-humor.
  5. Pasar tradisional Erlangga, tempat menjual oleh-oleh, pakaian seperti halnya pasar Sukawati Gianyar.
  6. Pantai Sanur: Pantai Sunrise yang berada di Sanur sangat menarik untuk melihat matahari terbit.
  7. Tanjung Benoa: Tempat untuk anda yang hobi dengan water sport, Banana boat, Jet Sky, Parasailing dan masih ada beberapa macam lainnya.
  8. Garuda Wisnu Kencana atau yang sering kita sebut GWK, ditempat ini kita bisa melihat pemandangan kota, laut dan gunung, GWK berlokasi di bukit, disini juga anda dapat menikmati makan siang atau makan malam.
  9. Monumen Bom Bali di jalan Legian.

Hari 2. Kuta – Munduk.

Setelah makan pagi di hotel kemudian persiapan untuk mengunjungi Pura Taman Ayun yang berlokasi di daerah Mengwi berjarak sekitar 19 km dari kota Denpasar, pura ini didirikan oleh kerajaan Mengwi (I Gusti Agung Ngurah Made Agung) pada sekitar tahun 1634 , Taman Ayun merupakan tempat peristirahatan, taman rekreasi dan tempat untuk persembahyangan kerajaan Mengwi pada masa itu, pura ini juga memiliki point yang sangat menarik untuk mengambil gambar bagi anda yang gemar photography, kemudian perjalanan anda di lanjutkan menuju Pura Tanah Lot, Pura Tanah Lot merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang terkenal di pulau dewata ini. Berdasarkan asal-usulnya pura ini memiliki arti sebagai “tanah laut” atau “tanah di laut”. Kata Tanah Lot mempunyai makna dari kata “Tanah” yang diartikan sebagai batu karang yang menyerupai gili atau pulau kecil, sedangkan kata “Lot atau Lod” mempunyai arti laut. Sehingga nama Tanah Lot diartikan sebagai pulau kecil yang terapung di tengah lautan. Bila air laut sedang surut, pada beberapa celah batu karang di sekitar pura Tanah Lot terdapat beberapa ekor ular belang berwarna hitam putih yang sangat jinak dan menurut penduduk setempat bahwa ular-ular tersebut adalah milik dewata yang bertugas sebagai penjaga pura Tanah Lot.

Menurut informasi, di sekitar pura juga terdapat mata air tawar yang hanya dapat terlihat bilamana air laut sedang surut. Pura Tanah Lot adalah pura umum yang berfungsi untuk pemujaan Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Baruna yaitu dewa penguasa laut. Selain itu juga berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja kebesaran dan kemuliaan Dang Hyang Nirartha sebagai seorang pendeta yang dianggap sebagai bhatara Sakti wau Rauh. Dengan demikian pura Tanah Lot adalah tergolong sebagai pura umum yang mempunyai sifat dan karakter sebagai pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot memiliki upacara atau piodalan yang jatuh pada hari Rabu Wage Langkir yang berlangsung setiap 6 bulan atau 210 hari sekali. Pada saat itu seluruh umat Hindu dari berbagai daerah di Bali akan datang bersembahyang untuk memohon keselamatan dan ketentraman. Sejarah berdirinya pura Tanah Lot berkaitan erat dengan riwayat perjalanan Dang Hyang Nirartha atau yang dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Wau Rauh yang datang dari Blambangan, Jawa Timur ke Bali pada abad ke-16 pada jaman pemerintahan raja Dalem Waturenggong di Gelgel. Beliau mengadakan perjalanan suci (Dharmayatra) dengan berjalan menyusuri pantai selatan pulau Bali mulai dari daerah barat sampai ke daerah timur. Dalam perjalanan tersebut, akhirnya beliau sampai pada sebuah pantai di daerah Tabanan, yang tidak jauh dari desa Baraban. Beliau melihat sebuah batu karang yang berbentuk pulau kecil yang berada di laut. Di tempat ini beliau melakukan semadhi atau bertapa dan merasakan getaran-getaran kesucian. Sehingga di atas batu karang tersebut beliau menyarankan agar mendirikan bangunan suci untuk memuja Tuhan yang kemudian menjadinama pura Tanah Lot.  Dari Pura Tanah Lot kemudian kita menuju Jati Luwih untuk menyaksikan keindahan panorama sawah bertingkat, daerah ini merupakan daerah penghasil padi yang cukup banyak. Selain padi biasa (warna putih) yang biasa kita konsumsi disini terdapat pula padi ketan hitam dan padi merah, masyarakat setempat biasanya mengkonsumsi padi merah. Disini sangat menarik untuk jalan-jalan di sawah dengan pemandangan bukit, sawah dan laut. Jalan kaki di mulai dari Jati Luwih turun sampai ke Desa Utu (guide akan memberikan informasi jalan dan akan menjemput anda di Pura Besi Kalung, lama perjalanan kurang lebih 30 menit). Sebelum melanjutkan perjalan ke Pasar Bedugul dan bisa menikmati makan siang sambil menikmati pemandangan sawah. Pasar tradisional Bedugul merupakan salah satu objek wisata pasar yang sangat diminati oleh pengunjung yang datang ke Bedugul, disini menjual beraneka ragam pakaian, bunga, buah-buahan dan oleh-oleh khas Bali. Tour di akhiri dengan mengunjungi Pura Ulun Beratan, pura ini terletak di dekat danau Beratan, Pura Ulun merupakan pura yang dibangun dekat dengan danau, disini juga terdapat kegiatan yang menyenangkan, anda bisa jalan-jalan mengitari danau dengan menggunakan perahu yang sudah tersedia. Anda akan tinggal 1 (satu) malam di Munduk, daerah ini di ketinggian 600 meter dari permukaan laut, tempat ini merupakan tempat penghasil kopi, anda dapat menikmati kopi Bali asli, makan malam buffet ala Bali (include), (bermalam di Munduk).

Dari Kuta, Sanur, Jimbaran dan Nusa Dua menuju Munduk selain melalui Jati Luwih Bedugul, perjalanan bisa ditempuh melalui Pupuan, namun melalui rute ini tidak terlalu banyak objek yang dapat anda kunjungi, aktifitas yang dilakukan adalah jalan-jalan di sawah sekitar Belimbing, di daerah ini juga anda bisa menikmati makan siang dengan panorama sawah bertingkat yang sangat indah,  kemudian anda juga bisa singgah di air terjun Pujungan, dapat di tempuh dengan jalan kaki kurang lebih 30 menit dengan melewati perkebunan kopi.

Hari 3. Munduk – Pemuteran.

Pagi ini kunjungan yang pertama ke Pohon Besar di desa Gesing, menurut orang-orang di desa tersebut pohon ini merupakan pohon yang terbesar di Bali (sejenis pohon Beringin) dan juga diperkirakan sudah berusia sekitar 750 tahun, di daerah ini ada beberapa orang yang membuat gangsing, biasanya setiap hari Selasa dan Jum’at ada perlombaan gangsing yang dikuti oleh banyak peserta. Kemudian dilanjutkan ke air terjun Munduk, dari tempat parkir anda bejalan kaki sekitar 15 menit, di lokasi sekitar terdapat berbagai macam tanaman seperti halnya kopi, cengkeh, kakao, alpukat dan beberapa macam bunga.

Kunjungan lain yang tidak kalah menariknya adalah ke Danau Tamblingan, aktivitas yang anda lakukan yaitu menyebrang danau dengan menggunakan perahu dayung tradisional yang biasa digunakan oleh penduduk desa di sekitar danau untuk mencari ikan, menyebrang danau ini sekitar 45 (empat puluh lima) menit dan kembali melalui hutan dengan jalan kaki kurang lebih 1,5(satu setengan) jam, (ada dua pilihan untuk anda menyebrang danau dengan perahu dan kembali dengan jalan kaki atauberkeliling danau tanpa jalan kaki)desa kecil ini berpenduduk kurang dari 50 Kepala Keluarga (KK), kehidupan yang sederhana, alami dan sangat ramah dalam berinteraksi, ditempat ini pula anda mempunyai kesempatan untuk memiliki kenang kenangan dengan menikmati santap makan siang di rumah penduduk dengan menu ikan goreng hasil yang mereka dapat dari danau. Setelah makan siang perjalanan ke air terjun Git Git, disana ada 3 (tiga) air terjun yang berbeda (air terjun kembar, air terjun bertingkat dan air terjun Git Git), kalau masih ada waktu sebelum ke hotel bisa mengunjungi Wihara Budha di Banjar dan pemandian air panas Banjar yang lebih dikenal dengan Banjar Hotspring.(malam pertama di Pemuteran).

(Sebaiknya dalam program tour hari ini terutama bila anda ingin melakukan tekking di danau Tambligan menggunakan celana panjang dan sepatu karena biasanya di hutan banyak terdapat lintah).

Hari 4. Pemuteran.

Tergantung jam berapa anda ingin memulai aktivitas,  ada beberapa pilihan untuk kunjungan di Pemuteran. Sebagian besar pilihan program yang mereka lakukan adalah snorkling atau diving di Pulau Menjangan, Pulau Menjangan tempat snorkling yang sangat indah bahkan ada beberapa orang mengatakan bahwa tempat ini merupakan tempat yang paling bagus untuk snorkling di Bali, banyak ikan dan beraneka ragam koral yang berwarna warni. Perjalanan menggunakan mobil tidak terlalu jauhdari hotel kurang lebih 10 (sepuluh) menit sampai ke dermaga penyebrangan dan kemudian menyebrang dengan menggunakan perahu kira kira 40 (empat puluh) menit.  Perahu akan menunggu anda disana dan untuk snorkling anda ditemani oleh guide lokal yang sudah berpengalaman. (boat, lokal guide snorkeling dan peralatan snorkeling include). Pilihan lainnya yaitu jalan-jalan di Taman Nasional Bali Barat, lama waktu jalan-jalan atau trekking bisa anda tentukan sendiri sesuai dengan selera anda.  Dalam program ini ada beberapa macam program yang bisa laksanakan, ada  program 1 (satu) sampai dengan 4 (empat) jam trekking. Atau anda mengunjungi Pura Pulaki dan Pura Melanting. Selain beberapa macam  pilihan yang tersebut di atas mungkin juga anda lebih suka dan memilih  tinggal dan menikmati keindahan hotel.(malam kedua di Pemuteran)

Objek – objek lain yang bisa anda kunjungi antara lain :

  • Penangkaran Penyu.
  • Gereja Palasari.

Hari 5. Pemuteran – Amed.

Bilamana pada hari sebelumnya anda tidak  ada kesempatan untuk mengunjungi Pura Pulaki dan Pura melanting, bisa anda kunjungi pagi ini dalam perjalanan menuju Amed, Pura Pulaki letaknya tidak terlalu jauh dengan Pura Melanting yaitu di wilayah Bali barat di pantai utara pulau Bali di daerah Banyupoh kecamatan Gerogak. Pura ini selain sebagai tempat suci untuk memuliakan dan memuja Hyang Widhi Wasa tempat ini juga merupakan untuk memuja dan memuliakan arwah suci dari salah satu istri dari Dhangyang Nirartha (Sri Patni Kaniten yang di beri gelar Bhatari Dalem Ketut).

Kemudian dilanjutkan dengan kunjungan  ke Wihara Budha dan Hospring Banjar tempat pemandian air panas yang mengandung belerang baik untuk kesehatan kulit. Untuk  makan siang anda bisa berhenti di Lovina, di daerah ini biasanya dikunjungi wisatawan untuk menyaksikan lumba-lumba di pagi hari, berangkat mengunakan perahu sekitar jam 6 pagi dan kembali sekitar jam 9 pagi, namun untuk melihat lumba-lumba tidak ada kepastian apakah anda bisa melihat atau tidak karena ini alam, sering juga terjadi lumba-lumba tidak menampakan diri. Setelah makan siang anda di ajak untuk mengunjungi objek wisata  air terjun Sekumpul, menurut kami ini merupakan air terjun yang terbagus di Bali, jarak dapat di tempuh dengan jalan kaki sekitar 15 menit. Pura Beji juga menarik untuk dikunjungi karena memiliki keunikan tersendiri dari pura pura yang lain, untuk mengakhiri kunjungan sore ini adalah kunjungan ke Pura Ponjok Batu kemudian ke  Amed. (malam pertama di Amed).

Hari 6. Amed.

Aktivitas di Amed hampir sama seperti di Pemuteran yaitu Snorkling dan Diving, snorkeling di Amed dan sekitar ada beberapa tempat yang menarik seperti di pantai Jemeluk (area ini banyak ikan dan tidak ada arus),  Banyuning (ada perahu Jepang yang tenggelam pada masa PD II, koral masih bagus tapi pada musimusim tertentu ada arus), Lipah (depan Café Indah) atau Snorkling di  Tulamben (ada kapal kargo Amerika yang tertembak pada tahun 1942 dan tenggelam disana). Dari Amed ke Tulamben jarak dapat di tempuh kurang lebih 25 (dua puluh lima)  menit menggunakan kendaraan. Untuk progam diving guide anda akan membantu untuk mengorganize dengan dive agent (Eco dive, euro dive atau Puri Wirata dive).  Anda bisa menyaksikan proses pembuatan garam, cara disini tidak sama dengan pembuatan garam di tempat lainnya, sebelum matahari terbenam anda di ajak jalan jalan di laut dengan menggunakan jukung sambil menunggu matahari terbenam, kalau anda yang suka memancing nelayan akan mempersiakan alat pancing tradisional yang mereka pakai sehari hari untuk menangkap ikan.(include). Atau mungkin juga anda memilih relax dan menikmati fasilitas hotel.(malam kedua di Amed).

Sebaiknya anda coba rumah makan/ restaurant dipinggir pantai yang kami referensikan :

  1. Café Indah
  2. Warung Bobo
  3.  Amed café restaurant

Hari 7.  Amed – Sidemen.

Sebaiknya anda berangkat pagi hari sebelum panas menuju Pura Lempuyang dapat di tempuh dengan kendaraan kurang lebih 20 menit melalui jalan menanjak dan berkelok kelok, tempat yang pertama di kunjungi adalah  Lempuyang Madya termasuk Pura Dang Kahyangan. Pura ini untuk memuja Ida Batara Empu Agenijaya dan Empu Manik Geni. Di mana, Empu Agenijaya bersaudara tujuh, di antaranya Mpu Kuturan, Mpu Baradah dan Mpu Semeru.Sementara palinggih yang ada di antaranya palinggih bebaturan linggih Batara Empu Agenijaya sareng Empu Manikgeni, Gedong Tumpang Siki satu, dua dan tiga, Manjangan Saluang, Sanggar Agung, Bale Pawedaan, serta Bale Pesandekan. Bagi anda yang ingin menuju Pura utama Sad Kahyangan Lempuyang Luhur di puncak anda harus melalui lebih dari 1.700 (seribu tujuh ratus) anak tangga. Selanjutnya ke Tirta Gangga, tempat ini didirikan pada tahun 1948 oleh Raja Karangasem terakhir yang digunakan sebagai tempat istirahat keluarga raja. Pembangunan tempat ini merupakan perpanduan antara arsitek Eropa, Cina dan arsitektur tradisional Bali.  Makan siang bisa anda nikmati di Pasir Putih dengan menu ikan bakar atau ada menu lainnya, Kerta Gosha Klungkung tempat ini dulu berfungsi sebagai tempat pengadilan pada masa kerajaan, disana juga terdapat lukisan kamasan yang menceritakan tentang sejarah, setelah itu untuk megisi waktu anda jalan jalan di sekitar Sidemen, disini terdapat home industri pembuatan ikat atau songket dengan design yang sangat cantik dan tempat pembikinan arak. (bermalam di Sidemen).

Hari 8. Sidemen – Ubud.

Pura Besakih merupakan pura yang terbesar di Bali,pembangunan pura ini diawali dengan penanaman Panca Datu (lima jenis logam) yaitu perak, tembaga, besi, mas dan mirah pada sekitar abad ke-8 dengan nama Pura Basukihan oleh Resi Markandya. Kemudian dengan kedatangan para raja-raja dan para Resi maka Pura Basukihan semakin berkembang dan menjadi Pura Besakih yang sekarang. Pada sekitar abad ke-10 dan ke-11, Raja Kesari Warmadewa datang berkunjung ke Pura Basukihan dan mendirikan Pura Merajan Slonding. Menurut prasasti Batu Madeg, Mpu Beradah pada masa pemerintahan Raja Erlangga juga pernah datang ke Besakih. Selain itu, Raja Kresna Kepakisan dan raja-raja Gelgel juga menaruh perhatian terhadap pemujaan di Pura Besakih. Pada saat itu untuk pemeliharaan dan pengembangan serta pelaksanaan upacara di Pura Besakih berada di bawah pengurusan kerajaan Klungkung yang merupakan penguasa tertinggi. Pura Besakih merupakan pura penyungsungan jagat yaitu pura pemujaan untuk dewa Siwa. Di dalam lontar Padma Bhuana menyebutkan bahwa pura Besakih sebagai Huluning Bali Rajya. Pernyataan ini ditandai dengan menyimak hubungan pura Sad Kahyangan yang ada di Bali dengan Pura Besakih seperti Pura Penataran Agung Besakih adalah hulunya Pura Desa di masing-masing desa pekraman di Bali.

Pura Basukihan adalah hulunya Pura Puseh di desa pekraman, Pura Dalem Puri adalah hulunya Pura Dalem di desa pekraman, Pura Ulun Kulkul adalah hulunya Kulkul, dan Pura Banua adalah hulunya Jineng, linggihnya Dewi Sri. Pura Besakih juga berfungsi sebagai Pura Padma Bhuana, seperti Pura Gelap (Timur) untuk pemujaan dewa Iswara dan di Bali bagian timur adalah Pura Lempuyang, Pura Kiduling Kreteg (Selatan) untuk pemujaan dewa Brahma dan di Bali bagian selatan adalah Pura Andakasa, Pura Ulun Kulkul (Barat) untuk pemujaan dewa Mahadewa dan di Bali bagian barat adalah Pura Batukaru, dan Pura Batu Madeg (Utara) untuk pemujaan dewa Wisnu dan di Bali bagian utara adalah Pura Ulun Danu Beratan. Setelah dari Pura Besakih kemudian ke  Kintamani Di kawasan wisata Kintamani yang sejuk terdapat area pemberhentian yaitu Penelokan, agar dapat menikmati keindahan gunung Batur dan danau Batur. Selain menikmati panorama alam juga bisa sambil bersantap karena di Penelokan banyak terdapat rumah makan. Untuk mencapai tepi danau, dari Penelokan harus melalui jalan menurun yang berkelok-kelok yang membelah gunung dan danau. Semakin menurun pemandangan di sekitarnya dan gunung Batur akan semakin indah dan terlihat sangat jelas. Di sekitar kaki gunung terdapat banyak bongkahan lava yang telah membatu. Berdasarkan Prasasti Sukawana, Kintamani mempunyai asal-usul nama yang berasal dari “Cintamani”, di mana terdapat tempat pertapaan dan tempat sejenis asram (yoga) yang digunakan oleh para pertapa dan biksu, seperti Siwakangsita, Siwanirmala, dan Siwapradjna. Ada beberapa yang mengartikan bahwa Kintamani berasal dari “Cintamani”, yang terdiri dari dua kata yaitu “Cinta” yang bermakna kasih sayang dan “Mani” yang artinya pikiran atau perasaan. Jadi Kintamani merupakan suatu tempat untuk memadu kasih agar pikiran dan perasaan menjadi senang.

Gunung Batur yang mempunyai ketinggian 1.717 meter dari permukaan laut merupakan gunung berapi yang masih aktif. Gunung ini pernah mengalami letusan dahsyat, yang oleh masyarakat Bali disebut dengan istilah Gejor Bali, terjadi pada tahun 1917 yang menelan korban meninggal  mencapai sekitar 1.000 orang dan menghancurkan sekitar 2.500 tempat persembahyangan termasuk Pura Ulun Danu Batur yang berada dekat di sekitar gunung tersebut. (saat ini pura Ulun Danu Batur sudah direnovasi). Sedangkan danau Batur adalah danau terbesar di pulau Bali dengan luas sekitar 16 km2 dan mempunyai kedalaman 65 – 70 meter serta menjadikan salah satu sumber mata air utama bagi masyarakat Bali. Kemudian dilanjutkan ke Tegalalang untuk melihat sawah bertingkat dan di sekitar daerah itu banyak sekali orang membuat patung dari kayu, Yeh Pulu pura yang terdapat relief abad ke 15, Goa Gajah, Petulu adalah nama desa dimana banyak terdapat burung bangau berwarna putih, biasanya bangau bangau kembali daerah tersebut menjelang matahari terbenam.(malam pertama di Ubud)

Hari 9. Ubud.

Di Ubud banyak sekali pilihan objek wisata yang menarik untuk di kunjungi antara lain: Museum Neka salah satu museum besar di Ubud, lokasi di daerah Campuhan kurang lebih sekitar 5(lima) menit dari pusat keramaian Ubud, di museum ini terdapat beberapa macam kreasi lukisan dari beberapa pelukis terkenal.

Museum Antonio Blanco bangunan megah seperti istana, di dalam museum ini bisa dibilang mayoritas hasil karya pelukis besar Antonio Blanco, setelah beliau wafat kemudian di teruskan oleh salah satu anaknya yang mengikuti jejak ayahnya sebagai pelukis yaitu Mario Blanco, Pasar Ubud berdasarkan dari beberapa pengalaman sebaiknya kalau mau belanja sesuatu di pasar Ubud sebaiknya pagi hari karena di pagi hari mereka mencari penglaris sehingga kadang kadang bisa mendapatkan harga lebih murah bila di banding belanja di siang atau sore hari, seperti halnya belanja di pasar tradisional lainnya anda harus menawar harga yang diberikan oleh pedagang, Pasar Sukawati disini anda bisa berbelanja kapan saja baik pagi, siang atau sore dengan harga yang relative murah dan pedagang menawarkan dengan harga yang tidak terlalu tinggi, dengan kondisi seperti itu sampai saat ini masih banyak wisatawan yang datang kesana untuk berbelanja, Mas desa ini merupakan salah satu obyek wisata di sekitar Ubud yang terkenal karena kesenian, seni ukir patung kayu, di sepanjang jalan Desa Mas telah berkembang art shop yang berfungsi sebagai salah satu cara memasarkan produksi karya masysarakat setempat dan memberi atau membuka lapangan kerja dan kesempatan tenaga kerja bagi orang yang memiliki kemampuan sebagai  pemahat, pematung dan pengukir, Celuk objek wisata kerajinan perak, disana anda dapat menyaksikan juga pengrajin perak beraktivitas dari mulai membuat sampai selesai membuat perak dengan beragam bentuk dan kualitas, Gunung Kawi Tampak Siring pura ini sangat menarik untuk di kunjungi karena pemandangannya sangat cantik dan bentuk pura dengan pahatan candi di tebing bukit, kalau anda ingin mengunjungi pura ini sebaiknya pagi hari dengan harapan tidak terlalu panas, untuk mencapai Pura Gunung Kawi anda harus melalui beberapa tangga, Tirta Empul ini juga salah satu pura yang sering di kunjungi dan letaknya tidak jauh dari Pura Gunung Kawi Tampak Siring. Tarian Bali untuk menambah kesempurnaan malam anda bisa menyaksikan Tarian Bali di Ubud Palace yang lokasinya di depan pasar tradisional ubud.(malam kedua di Ubud).

Sekilas Pandang Bali

Bali

Secara Umum

Bali adalah ikon pariwisata Indonesia di mata dunia. Bali merupakan pusat pariwisata di Indonesia dan juga sebagai salah satu Daerah Tujuan Wisata terkemuka di dunia. Bali dikenal para wisatawan karena memiliki potensi alam yang amat indah antara lain, iklim yang tropis, hutan yang hijau, gunung, danau, sungai, sawah serta pantai indah dengan beragam pasir putih dan hitam. Selain itu, Bali lebih dikenal juga karena perpaduan alam dengan manusia serta adat kebudayaannya yang unik, yang berlandaskan pada konsep keserasian dan keselarasan yang telah mewujudkan suatu kondisi estetika yang ideal dan bermutu tinggi.

Geografis

Bali merupakan salah satu propinsi dari 30 propinsi di Indonesia. Propinsi Bali terdiri dari pulau Bali, pulau Nusa Penida dan pulau-pulau kecil lainnya memiliki wilayah seluas 5.632,86 km2 (0,29% dari luas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia). Secara administrasi propinsi Bali terdiri dari 8 Kabupaten, yaitu Badung, Gianyar, Bangli, Klungkung, Karangasem, Tabanan, Buleleng, Jembrana dan satu Kotamadya Denpasar sebagai pusat ibukota propinsi, 55 Kecamatan, 701 Desa / Kelurahan, 1432 Desa Adat / Desa Pekraman dan 3045 Banjar Adat.

Daerah Bali terletak di antara 7,54 º dan 8,13 º Lintang Selatan dan 114,25 º dan 115,43 º Bujur Timur. Pulau Bali memiliki letak yang strategis karena menghubungkan lalu-lintas darat dan laut antara pulau Jawa dengan kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Bali secara regional juga memiliki letak strategis karena menghubungkan benua Asia dan benua Australia.

Secara geografis pulau Bali memiliki jajaran pegunungan yang terbentang memanjang dari barat ke timur. Di antara pegunungan tersebut sejumlah gunung dengan puncaknya seperti Gunung Agung (3.142 m), Gunung Batur (1.717 m), Gunung Abang (2.152 m), Gunung Batukaru (2.276 m). Gunung Agung dan Gunung Batur merupakan gunung berapi yang kondisinya masih aktif. Di sebelah utara dan selatan pegunungan tersebut terbentang tanah daratan, dengan ujung barat sampai ujung timur mencapai ± 140 km dan ujung utara hingga ujung selatan mencapai ± 80 km. Danau-danau yang terdapat di pulau Bali adalah Danau Batur (luas 1.607,5 Ha), Danau Beratan (375,6 Ha), Danau Buyan (336 Ha), Danau Tamblingan (110 Ha). Pada umumnya sungai-sungai di Bali yang bersumber dari hutan dan danau tersebut mengalir ke daerah selatan, seperti sungai Unda, sungai Petanu, sungai Ayung, sungai Pulukan, sungai Loloan dan lain-lain.

Iklim

Daerah Bali dan sekitarnya termasuk daerah beriklim tropis yang dipengaruhi oleh angin musim yang berganti setiap enam bulan sekali. Daerah Bali memiliki dua musim yaitu musim kemarau yang jatuh pada bulan April hingga Oktober dan musim hujan yang berlangsung dari Oktober hingga bulan April. Kelembaban Udara di Bali rata-rata mencapai 79% dan temperatur udara bervariasi antara 24,0 º Celcius dan 32,8 º Celcius. Curah hujan yang terjadi di daerah Bali bervariasi antara dari yang terendah 893,4 mm dan yang tertinggi 2.702,6 mm.

Fauna & Flora

Keadaan fauna di Bali sebagian besar terwujud sebagai fauna yang telah diternakkan, meliputi sapi, kerbau, kambing, babi, kuda, ayam dan itik. Untuk keadaan flora di Bali secara keseluruhan tergolong ke dalam jenis flora tropis. Jenis flora alam yang belum diolah manusia ada beraneka ragam jenis yang tumbuh di hutan-hutan. Sedangkan flora yang sudah diolah mencakup jenis flora yang berhubungan dengan usaha pertanian pangan (padi dan palawija), usaha perkebunan, usaha tanaman pekarangan dan juga tanaman hias. Untuk jenis perkebunan di Bali yang umumnya diolah meliputi kelapa, kopi, cengkeh, tembakau, kapuk, karet, coklat, stroberi, vanili dan jambu mente.

Penduduk

Jumlah penduduk propinsi Bali menurut sensus penduduk tahun 2005 sebesar 3.431.368 orang. Lima sensus sebelumnya mencatat jumlah penduduk di Bali sebagai berikut : sensus pada tahun 1930 tercatat 1.101.029 orang, sensus pada tahun 1961 tercatat 1.782.529 orang, sensus pada tahun 1971 tercatat 2.120.091 orang, sensus pada tahun 1980 tercatat 2. 469.930 orang, sensus pada tahun 2000 tercatat 3.146.999 orang.

Kebudayaan

Orang Bali atau suku bangsa Bali merupakan salah satu dari suku bangsa yang berdomisili di kepulauan Indonesia. Suku bangsa Bali merupakan satu kelompok atau komunitas manusia yang terikat oleh kesadaran atau kesatuan kebudayaan, baik kebudayaan daerah Bali maupun kebudayaan nasional Indonesia. Rasa kesadaran akan kesatuan kebudayaan Bali diperkuat oleh adanya kesatuan bangsa dan kesatuan agama Hindu. Orang Bali memiliki bahasanya sendiri yaitu bahasa Bali yang mempunyai tradisi sastra baik tulisan maupun lisan, serta didukung oleh sistem aksara tersendiri. Orang-orang Bali yang tradisional akan sangat terikat pada segi-segi kehidupan mereka, yaitu wajib melakukan pemujaan terhadap pura tertentu, wajib untuk satu dalam komunitas, dalam pemilikan tanah diwajibkan dalam satu subak tertentu, wajib pada satu status sosial atas dasar warna, dalam ikatan kekerabatan harus berprinsip patrilineal, wajib untuk keanggotaan ‘sekeha’ tertentu, wajib untuk satu kesatuan administrasi desa dinas tertentu.

Masyarakat dan kebudayaan Bali, baik oleh sebab internal dan eksternal telah mengalami berbagai dinamika dan perubahan. Dinamika dan perubahan tersebut berproses menuruti alur perkembangan tiga tradisi utama yang merupakan refleksi keseluruhan kebudayaan Bali, yaitu ‘tradisi kecil’, ‘tradisi besar’, dan ‘tradisi moderen’. ‘Tradisi kecil’ terdiri dari unsur-unsur kebudayaan Bali yang berasal dari kehidupan pra-Hindu seperti yang tampak dalam segi kehidupan masyarakat penduduk asli Bali (Bali Aga). ‘Tradisi besar’ mencakup unsur-unsur kehidupan masyarakat dan kebudayaan yang berkembang seiring dengan dengan agama Hindu. Sedangkan ‘Tradisi moderen’ mencakup unsur-unsur yang berkembang sejak jaman penjajahan, kemerdekaan dan era informasi serta globalisasi. Jati diri orang Bali sangat dominan dibentuk oleh kebudayaan Bali yang dijiwai agama Hindu dengan dukungan tiga unsur pokok, yaitu bahasa Bali, kesenian dan lembaga tradisional, serta berlandaskan pada konfigurasi nilai-nilai dasar yang mencakup nilai religius, solidaritas dan estetika.

Keberadaan kebudayaan Bali memiliki akar sejarah yang berawal dari jaman prasejarah hingga berlanjut pada jaman moderen serta peradaban global. Dalam keterbukaannya dengan moderenisasi dan globalisasi, kebudayaan Bali memperlihatkan sifat yang dinamik, selektif, fleksibel dan adaptatif. Secara garis besar periodesasi sejarah kebudayaan Bali berkembang menurut tiga tahapan utama, yaitu jaman kebudayaan prasejarah, jaman pengaruh agama Hindu-Budha, dan jaman pengaruh kebudayaan moderen. Bukti-bukti penemuan menunjukkan bahwa jaman prasejarah Bali berpangkal pada jaman masa berburu dan pada masa mengumpulkan makanan yang tingkat sederhana. Selanjutnya dengan ditemukan bukti berupa alat-alat pada masa berburu, alat-alat pada masa bercocok tanam dan alat-alat pada masa perundagian. Satu komunikasi khusus yang mempunyai arti dalam bagi eksistensi dan perkembangan kelanjutan kebudayaan Bali adalah terjalinnya kebudayaan Bali dengan agama Hindu yang berawal sekitar permulaan tarikh masehi. Komunikasi tersebut kini mewujudkan satu integrasi yang utuh antara tradisi agama dan kebudayaan serta mewujudkan satu konfigurasi budaya yang menjadi identitas masyarakat Bali. Pengaruh kebudayaan Barat yang diperkenalkan Belanda, kemudian berlanjut dalam kerangka integrasi dengan kebudayaan nasional serta keterbukaan secara internasional melalui pariwisata.

Sejarah

Sejarah Bali mengungkapkan adanya berbagai dinasti dan kerajaan lokal. Dinasti yang pertama kali ada di Bali adalah Dinasti Warmadewa sekitar tahun 913. Pada tahun 989 – 1011 memerintah raja Dharma Udayana dari Dinasti Warmadewa tersebut. Beliau memerintah bersama permaisuri Gunapriya Dharmapatni, seorang putri dari Jawa Timur dan dari hasil perkawinannya, lahirlah tiga orang putra yaitu Airlangga, Marakata dan Anak Wungsu. Kemudian sejak tahun 1343, Bali berada dalam kekuasaan kerajaan Majapahit dan pada tahun 1352 berada di bawah kekuasaan Dinasti Kresna Kepakisan yang berkeraton di Samprangan. Setelah beberapa tahun di Samprangan, pada tahun 1380 keraton dipindahkan ke Gelgel dan kemudian dipindahkan lagi ke Klungkung pada tahun 1686. Di samping adanya kekuasaan kerajaan Klungkung, pada saat itu ada juga kerajaan-kerajaan lainnya seperti Gianyar, Karangasem, Bangli, Badung, Tabanan, Jembrana dan Mengwi. Pada masa-masa itu kerajaan-kerajaan tersebut berperan sebagai pusat-pusat pengembangan kebudayaan.

Sejarah Bali juga mencatat masa kedatangan Islam yang diperkirakan masuk pada abad ke 14. Sedangkan masa kedatangan penjajahan colonial Belanda terjadi pada tahun 1597 dan menurut sejarah peperangan yang terjadi di Bali melawan penjajahan Belanda antara lain perang Buleleng pada tahun 1849, perang Puputan Badung pada tahun 1906 dan perang Puputan Klungkung pada tahun 1908. Kemudian revolusi fisik dengan terjadinya pertempuran besar yang dikenal dengan perang Puputan Margarana pada tanggal 20 Nopember 1946 di bawah pimpinan Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai yang gugur sebagai Pahlawan Nasional.

Upacara Bali Canang Sari

Pelaksanaan upacara di Bali tidak bisa dilepaskan dari sarana upakara yang digunakan dalam fungsinya sebagai persembahan kehadapan Tuhan yang maha Esa. Salah satunya adalah Canang Sari yang merupakan banten atau upakara yang paling sederhana yang bisa kita persembahkan kehadapan-NYA.

Bentuk banten Canang Sari ini dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian bawahnya bisa berbentuk bulat ataupun segi empat seperti ceper atau taledan. Sering pula diberi hiasan trikona atau plekir pada pinggirnya. Pada bagian bawahnya ini terdapat pelawa, porosan, tebu kekiping (sejenis jajan dari tepung beras), pisang emas/yang sejenis dan beras kuning yang dialasi dengan tangkih. Kemudian bagian atasnya diisi dengan dengan bermacam-macam bunga warna warni seperti bunga pecah seribu, bunga mitir, bunga pacar serta ditambahkan kembang rampe (daun pandan yang diiris kecil-kecil). Hiasan bunga tersebut juga sering dialasi dengan sebuah “uras sari/sampian uras”.

Bentuk uras sari ini kadang-kadang dibuat sangat indah bahkan bisa dibuat bersusun. Disamping komponen yang telah disebutkan di atas, pada Canang Sari hendaknya dilengkapi sesari berupa uang uang kertas, uang logam maupun uang kepeng yang jumlahnya disesuaikan dengan situasi dan kondisi seseorang. Adapun perlengkapan seperti tebu, kekiping dan pisang emas disebut “raka-raka”, walaupun dalam hal ini jumlah serta jenisnya sangat terbatas. Raka-raka melambangkan Hyang Widyadhara-widyadari. Pisang emas melambangkan Dewa Mahadewa, secara umum semua piang melambangkan Hyang Kumara, sedangkan tebu melambangkan Dewa Brahma. Canang Sari dapat digunakan sebagai persembahan tersendiri ada upacara-upacara piodalan disuatu pura, atau dipakai untuk melengkapi persembahan lainnya baik berupa materi maupun berupa sesajen, sudah tentu bisa pula dipergunakan pada hari-hari tertentu seperti Keliwon, Purnama, Tilem atau melengkapi upacara-upacara persembahyangan disuatu tempat suci.

Adat Kebudayaan Bali Meru

Kata Meru adalah nama sebuah gunung di India (Gunung Mahameru) dan diyakini sebagai tempat suci (Sang Hyang Widhi). Meru yang sebenarnya tempatnya di Swargaloka. Sedangkan di Bali Meru adalah bangunan atau pelinggih suci tempat mensthanakan/menaruh para Dewa. Meru dalam bentuk bangunan atau pelinggih terdiri dari tiga bagian yaitu bagian dasar, badan dan atap. Khusus untuk bagian atapnya bertingkat-tingkat, semakin ke atas bentuknya semakin kecil menyerupai sebuah gunung. Jumlah tingkatan atapnya selalu ganjil yaitu 1, 3, 5, 7, 9 dan 11. Pada umumnya bagian atap ini terbuat dari ijuk. Bagian dasar Meru pada umumnya terbuat dari batu alam atau batu buatan yang berbentuk bujur sangkar. Sedangkan badan Meru pada umumnya terbuat dari bahan kayu kecuali beberapa Meru di Pura Besakih, badan Meru terbuat dari batu padas atau bata dan biasanya ukurannya jauh lebih besar daripada Meru yang memakai badan dari bahan kayu. Meru seperti halnya candi atau prasada adalah simbol dari alam semesta yang terdiri dari tiga bagian yaitu Bhurloka, Bhuvahloka dan Svahloka. Menurut lontar Andhabhuwana tingkatan atap Meru merupakan simbol lapisan alam besar (Macrocosmos) dari bawah ke atas adalah Sakala, Niskala, Sunya, Taya, Nirbana, Moksa, Suksmataya Turyanta, Acintyataya dan Cayem, ada sebelas tingkat banyaknya.

Atap Meru juga merupakan simbolis dari “penglukunan Dasaksara” (peredaran sepuluh huruf suci yang dikaitkan dengan dewa-dewa Dikpala/Dewata Nawa Sanga), yaitu : Sa (Iswara), Ba (Brahma), Ta (Mahadewa), A (Wisnu), I (Siwa/Zenit), Na (Mahesora), Ma (Rudra), Si (Sankara), Va (Sambhu), Ya (Siwa/Nadir). Kesepuluh dewa-dewa tersebut adalah manifestasi dari Dewa Siwa sebagai penguasa alam semesta, diantaranya sebagai pelindung kiblat (mata angin). Dewa Wisnu di sebelah utara, Dewa Sambu di timur laut, Dewa Iswara di timur , Dewa Mahesora di tenggara, Dewa Brahma di Selatan, Dewa Rudra di barat daya, Dewa Mahadewa di barat dan Dewa Sankara di barat laut.

Seperti halnya fungsi prasada/kitab, maka Meru juga mempunyai fungsi sebagai tempat memuja Sang Hyang Widhi atau manifestasi-Nya dan Meru sebagai tempat pemujaan Dewa Pitara atau Atmasiddhadevata (roh suci leluhur).

Perbedaan fungsi bangunan Meru dapat diketahui dari “pedagingan” (isi yang ditanamkan pada waktu upacara melaspas meru atau peresmian Meru tersebut), puja atau stava (mantram pemujaan) yang dipakai pada waktu upacara piodalan dan dari segi bentuk bangunannya. Pada umumnya untuk Sang Hyang Widhi atau manifestasinya-Nya dibuat lebih besar dan kadang-kadang badan meru dibuat dari bahan batu bata. Pada dasar Meru ada juga yang mempergunakan ukiran dengan relief bedawangnala (empas) dan dibelit oleh satu atau dua ekor naga seperti halnya terdapat pada bangunan candi atau Padmasana. Contoh bangunan/pelinggih Meru hampir terdapat pada setiap pura besar di Bali (penyungsungan jagat), misalnya pura Besakih, Uluwatu, Taman Ayun, Batukaru dan sebagainya.

Goa Gajah

Obyek wisata Goa Gajah berada di desa Bedulu, kecamatan Blahbatuh, kabupaten Gianyar. Dari ibukota Denpasar, hanya menempuh waktu lebih kurang 45 menit atau berjarak sekitar 30 km kearah timur laut, berada di jalur jalan raya antara Ubud ke Kintamani.

Goa Gajah merupakan obyek wisata bersejarah berupa gua tempat pertapaan dan kegiatan agama Budha dan agama Siwa. Selain terdapat artefak-artefak bersejarah, obyek wisata ini memiliki pemandangan alam yang indah karena dikelilingi persawahan dan sungai kecil (pakung). Goa Gajah dibangun pada tepi jurang dari pertemuan sungai kecil yang airnya kemudian mengalir ke sungai Petanu. Karena pertemuan aliran dua buah sungai yang disebut “campuhan” dipandang memiliki nilai magis, maka tempat pertapaan tersebut dibangun.

Tempat pertapaan dan kegiatan agama Budha berada di seberang selatan sungai sedangkan di seberang utara sungai merupakan tempat pertapaan dan kegiatan agama Siwa. Asal-usul Goa Gajah belum dapat diketahui secara pasti. Menurut kitab Jawa Kuno, Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, nama Goa Gajah berasal dari kata “Lwa Gajah“, Lwa berasal dari lwah atau loh yang berarti air atau sungai dan Gajah adalah nama sungai yang sekarang disebut sungai Petanu. Pendapat lain mengatakan nama Goa Gajah berasal dari arca Ganesha yang berada di dalam gua pada sudut barat laut di mana arca Ganesha tersebut kepalanya memakai belalai seperti gajah. Pada prasasti Dawan tahun 975 Saka dan prasasti Pandak Bandung menyebutkan nama pertapaan “Antakunjarapada”. Bila ditinjau dari arti kata ‘kunjara’ yang berarti gajah, dan ‘anta’ yang berarti akhir atau batas, sedangkan ‘pada’ berarti tempat atau wilayah. Dengan demikian Antakunjarapada berarti tempat pertapaan yang terletak pada perbatasan wilayah Air Gajah, yang sekarang disebut Goa Gajah. Pertapaan Goa Gajah yang dalam bahasa Sansekerta disebut Antakunjarapada dapat dihubungkan dengan pertapaan Kunjarakunja yang berada di India selatan di lereng Gunung Kunjara, tempat kediaman Rsi Agastya yang sekarang disebut Agastya-malai. Lingkungan sekitar pertapaan Kunjarakunja yang berada di pegunungan di tepi aliran sungai Tamraparni yang diperkirakan menjadi konsep penamaan pertapaan Goa Gajah. Arca Budha dan relief di pertapaan agama Budha yang berada di seberang selatan sungai memiliki bentuk sama dengan yang ada di Candi Borobudur. Berdasarkan bukti tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pada abad ke 8 Masehi, Goa Gajah telah menjadi kegiatan agama Budha, lebih tua dari peninggalan agama Siwa yang terdapat di dalam gua itu sendiri. Peninggalan yang ada di dalam gua seperti patung Ganesha, Trilingga dalam satu lapik dan tulisan Kadiri Kwadrat pada dinding sebelah timur pintu masuk yang berbunyi “kumon sahy (w) angsa” yaitu tulisan yang berbentuk segi empat. Tulisan serupa juga ditemukan di Candi Padas Gunung Kawi yang berbunyi “haji lumahing jalu” dan pada candi di sebelahnya terdapat tulisan “rwa ta (a) nak ira”. Berdasarkan tipe tulisan ini diduga berasal dari abad ke 11 Masehi. Atas dasar bukti-bukti itu dapat dikatakan bahwa Goa Gajah pada abad ke 11 Masehi sudah merupakan tempat kegiatan agama Siwa.

Relief yang terpahat di dinding muka Goa Gajah adalah pahatan yang menyerupai alam pegunungan dengan berbagai pepohonan dan binatang yang menandakan pertapaan itu berada di pegunungan dengan hutan yang lebat dengan berbagai binatang, hal yang sama seperti pada pertapaan Kunjarakunja di India selatan. Di atas lubang gua dihiasi pahatan kala yang berfungsi untuk menjaga kesucian dan memberikan perlindungan tempat pertapaan tersebut. Pada tahun 1923 Goa Gajah baru diketahui keberadaannya di mana sebelumnya tertutup oleh semak belukar. Di dalam Goa Gajah terdapat 13 ceruk, 4 ceruk berada pada lorong masuk dan sisanya berada di dalam gua, yang berfungsi untuk menaruh arca pujaan bersama alat-alat ritual. Arca Ganesha terletak di ceruk sebelah barat dan arca Trilingga terletak di ceruk sebelah timur. Dewa Ganesha adalah seorang putra Dewa Siwa, yaitu dewa penolak mara bahaya sehingga disebut dewa Wighnapati. Selain itu juga disebut dewa kearifan dan dewa kebijaksanaan dan pada saat itu disebut Winayaka. Dewa Ekadanta yaitu dewa yang bertaring satu karena satu taringnya patah ketika dipakai senjata saat berperang melawan raksasa Nilarudraka. Sikap duduk Dewa Ganesha yang mempertemukan jari-jari kakinya yang disebut wirasana melambangkan keprawiraan, genitri atau tasbih yang merupakan jalinan butir-butir ilmu pengetahuan. Patahan taring yang ada di tangan kanan merupakan simbol patahnya keraksasaan dan mangkok yang berisi air di tangan kiri yang dihisap dengan belalainya, melambangkan bahwa ilmu pengetahuan harus dipelajari dan dicari. Sedangkan parasu atau kapak merupakan untuk menolak bahaya. Sedangkan Trilingga dalam satu lapik yang dikelilingi oleh 8 lingga kecil merupakan inti pemujaan dewa Siwa dalam aspek vertikal, yaitu Dewa Siwa, Sada Siwa, dan Parama Siwa. Delapan lingga kecil yang mengelilinginya ditafsirkan sebagai simbol dari Astadewata yaitu delapan aspek dari Siwa seperti dewa Iswara, dewa Brahma, dewa Mahadewa, dewa Wisnu, dewa Mahesora, dewa Rudra, dewa Sangkara, dan dewa Sambu. Dan bila ditambah satu lagi yaitu dewa Siwa ditengah-tengah maka akan menjadi Nawa Sanga Dewata.

Di bagian luar gua ini terdapat kolam dengan pancuran yang merupakan tempat mengambil air suci untuk keperluan upacara. Kolam yang pada mulanya tertimbun, baru ditemukan pada tahun 1954 oleh Krijgsman dari Dinas Purbakala saat itu. Dan arca-arca yang terdapat pada pancuran merupakan arca bidadari-bidadari yang mungkin jumlah sebenarnya ada 7 buah tetapi hanya ditemukan 5 buah. Arca-arca itu terbagi dalam 2 kelompok, yang masing-masing ada 3 pancuran berjejer dan satu di tengah-tengah tidak ada. Tujuh pancuran sebagai tempat mengambil air suci mengambil konsep ‘sapta tirta’ yaitu 7 air suci yang memiliki nilai kesucian sama dengan ‘sapta nadi’ yaitu 7 sungai yang disucikan di India antara lain sungai Gangga, sungai Sindhu, sungai Saraswati, sungai Yamuna, sungai Godawari, sungai Serayu, dan sungai Darmada. Pada saat ini, peninggalan purbakala Goa Gajah menjadi sebuah pura yaitu Pura Goa Gajah yang diayomi oleh masyarakat setempat.

Upacara Mecaru

Upacara Mecaru bisa juga disebut Butha Yadnya, ini adalah suatu upacara untuk menjaga mengharmoniskan hubungan antara manusia dengan alam lingkungan sekitarnya, sementara caru sendiri arti nya cantik atau harmonis (kitab Samhita Swara). Mecaru ini dilaksanakan Sehari sebelum hari raya Nyepi, tepat pada bulan mati (tilem).

Satu hari sebelum Hari Raya Nyepi yaitu pada waktu sasih kesanga umat Hindu Bali melaksanakan upacara Butha Yadnya yang diadakan di perempatan jalan dan lingkungan rumah masing-masing, pada upacara ini dibuatkan Caru/persembahan  menurut kemampuan dari yang melaksanakannya. Pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisudha Bhuta Kala dan segala kotoran  yang ada dan berharap  semoga sirna semuanya dan menjadi suci kembali.

Untuk pelaksanaan upacara ini dilakukan dirumah masing masing, caru/persembahan berisikan atau terdiri dari; nasi manca warna (lima warna), lauk pauknya ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Permohonan ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja, Bhuta Kala dan Bhatara Kala agar supaya mereka tidak mengganggu umat manusia.

Sedangkan Butha Yadnya pada hakekatnya merawat lima unsur alam yang disebut panca maha butha (tanah, air, api, udara dan ether). Kalau kelima unsur alam itu berfungsi secara alami maka dari kelima unsur itulah lahir tumbuh-tumbuhan. Seperti kita ketahui bahwa tumbuh-tumbuhanlah sebagai bahan dasar makanan hewan dan manusia. Kalau keharmonisan kelima unsur alam itu terganggu maka fungsinya pun juga akan terganggu.

Upacara mecaru ini berfungsi untuk menanamkan nilai-nilai luhur dan spiritual kepada umat manusia agar selalu menjaga keharmonisan alam, lingkungan beserta isinya (wawasan semesta alam). Sementara makna upacara mecaru sendiri adalah kewajiban manusia merawat alam yang diumpamakan badan raga Tuhan dalam perwujudan alam semesta beserta isinya.

Begitu banyaknya Tuhan Yang Maha Esa memberikan kemudahan bagi umat manusia agar dipergunakan sebagai mana mesti, namun dari semua itu juga Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) menitipkan alam beserta ini agar tidak  dirusak dan selalu di jaga untuk kelangsungan kehidupan manusia.

Dari pemaparan diatas mengandung arti atau makna yang yang tidak ternilai harganya tentang keberadaan alam semesta dan masa/kala/waktu. Jika kita merusak alam semesta beserta isinya saat ini pada waktu/masa atau kala nya nanti kita juga akan dibinasakan oleh alam semesta lewat musibah/bencana yang tidak ada habisnya.

(Artikel dari berbagai sumber).