Pura Sakenan

Wisata spiritual yang selaras dengan keyakinan umat Hindu di Bali dengan ribuan pura atau tempat persembahyangan lainnya merupakan cerminan suatu hubungan yang harmonis antara masyarakat dengan sang pencipta. Pura Sakenan merupakan salah satu wujud dari pernyataan di atas yang berada di kawasan Pulau Serangan atau yang lebih dikenal dengan Pulau Penyu, Desa Serangan, Denpasar, Bali.

Bersumber dari Purana Pura Sakenan yang disusun oleh Tim Dinas Kebudayaan Bali, dikatakan bahwa pada jaman dulu Pura Sakenan  merupakan tempat krama subak untuk memohon agar sawah atau lading tidak terkena penyakit serta hama yang dapat merusak tanaman, memohon berkah serta kesejahteraan hidup pada Tuhan.  Dalam Purana ini juga disebutkan bahwa Hyang Sakenan menjaga walang sangit dan Hyang Masceti menjaga tikus agar tidak merusak sawah dan ladang petani.

Seiring perkembangan jaman, sawah dan ladang petani di sekitar wilayah Sakenan tidak berfungsi lagi namun saat ini sektor pariwisata lah yang berkembang di kawasan ini, khususnya wisata bahari maka Pura Sakenan pun menjadi tempat pemujaan untuk memohon kesejahteraan hidup serta keselamatan pada objek –objek wisata yang berada di Sanur, Kuta, Nusa Dua serta Denpasar.

Pura Dalem Sakenan merupakan stana Hyang Sandhijaya (Tatmajuja) atau disebut juga Samudra Kertih, dimana Pura Sakenan adalah  sebagai tempat pemujaan Ida Hyang Dewa Biswarna atau Baruna yang berdiri di tepi laut selatan Desa Serangan. Beliau benar-benar sebagai penjaga Segara Pakretih (ketenangan lautan/samudera) untuk keselamatan dunia, menghilangkan segala jenis rintangan di dunia, dan segala jenis penyakit dan menyucikan segala jenis kala, bhuta dan manusia, dan berbagai jenis penyakit.

Pura Sakenan berkonsep swamandala yaitu terdiri atas pelinggih-pelinggih dan bangunan-bangunan yang ada di dalamnya, yang terbagi menjadi dua pelebah yaitu Pura Dalem Sakenan dan Pura Pesamuan/Penataran Agung Sakenan.

Pura Sakenan mempunyai tiga halaman (trimandala): utama mandala, madya mandala, dan nista mandala. Masing-masing halaman dibatasi oleh tembok keliling lengkap dengan kori agung, apit lawang dan bebetelan. Pada puncak kori agung dipahatkan hiasan kepala kala. Di dalam utama mandala terdapat sejumlah pelinggih seperti candi, bale tajuk, bale pesandekan, dan apit lawang.

Pada halaman depan terdapat Candi Kurung yang diapit oleh dua buah arca Ganesha, candi ini menghubungkan Utama mandala dan Madya mandala. Di Madya mandala ini dikelilingi oleh tembok penyengker lengkap dengan Candi Bentar pada sisi sebelah baratnya dan petetesan pada sisi utara dan timurnya, sedangkan di bagian Nista mandala hanya berupa halaman kosong.

Di bagian Utama mandala terdapat bangunan pelinggih yakni bebatuan yang berupa Padma Capah stana Ida Batara Masjati, juga sebagai pemujaan Jro Dukuh Sakti. Meru Tumpang Tiga stana Batara Batur, Intaran, Ida Batara Muter. Gedong Jati stana Ida Ratu Ayu, Gedong (Tajuk) stana Batara Buitan dan Batara Muntur. Ada pula bale gede atau bale paruman yang gberfungsi sebagai tempat pesamuan para pemangku, dan juga tempat penyucian pratima Ida Batara dan tempat para sulinggih dan para raja pada saat ada upacara pujawali.

Konon menurut sejarah, Pura ini dibuat oleh Mpu Kuturan pada abad ke-10. Beliau adalah seorang Pendeta Hindu dari Kerajaan Majapahit yang datang ke Bali sebelum jatuhnya Kerajaan Majapahit. Pura Sakenan ini terdiri dari dua bagian yang terpisah, bagian yang besar telah diperbaiki namun pagar batu yang mengelilinginya tetap seperti awal sedangkan bagian yang kecil merupakan warisan dari masa lampau.

Pura Sakenan dibangun dengan menggunakan batu kapur dan karang merah, dimana pada halaman Pura terdapat dua pohon besar dan tinggi yang diyakini sebagai tempat tinggal roh-roh yang menjaga Pura.

Sebagian besar umat Hindu di Bali selalu mengunjungi Pura ini pada Hari Kuningan, salah satu hari raya yang dikhususkan untuk memuja Dewa Wisnu yaitu dewa pembawa kesejahteraan di dunia. Bagi umat Hindu di Bali, Kuningan merupakan satu waktu dimana para leluhur kembali ke langit setelah beberapa saat berada di bumi.

Karena letaknya yang berada di kawasan wisata Pulau Serangan maka saat ini fasilitas yang terdapat di sekitar area pura ini adalah warung penjual makan dan minuman, toilet, area parkir serta didukung juga dengan akses jalan menuju pura ini yang sudah cukup baik.

Adapun mata pencaharian masyarakat sekitar pura ini adalah sebagai nelayan dan pedagang walau masih ada juga sebagian kecil dari mereka yang menjadi petani.

Pura Sakenan berjarak kurang lebih 15.5 km dari Kota Denpasar Bali sehingga apabila anda ingin mengunjungi pura ini hanya diperlukan waktu sekitar 30 menit perjalanan saja.

Bali Pulau Seribu Pura, mengkondisikan Bali sebagai daerah spiritual yang yang subur bagi berkembangnya spiritualitas dan sastra budaya yang bersifat universal untuk perdamaian dunia dan kemanusiaan.

Komentar